Senin, 12 Maret 2012

Tips menjadi guru yang disukai siswa

Siapa yang tidak mau menjadi guru yang disukai siswa. Semua guru sepertinya mengharapkan ini. Tapi tahukah anda bahwa semakin minta disukai siswa semakin jauh kita dari kriteria guru yang layak disukai siswa? jika disukai siswa menjadi tujuan kita sebagai guru tidak ada yang namanya profesionalisme lagi, yang ada hanyalah menuruti apa yang siswa mau dan inginkan, bahkan bila yang diinginkan sudah keluar jalur kegiatan belajar dan mengajar.
Menjadi guru yang disukai bukan perkara mudah tapi juga tidak sulit, saya pribadi pun masih dalam upaya untuk bisa disukai siswa. Namun tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, dimana ada kemauan disitu ada jalan. Berikut ini adalah caranya.
  1. Tidak terlalu banyak melaksanakan metode ceramah
  2. Memberikan contoh kepada siswa apa yang ia ingin siswa lakukan. Jika anda sebagai guru berharap siswa anda hormat pada anda, silahkan terlebih dahulu menjaga harga diri siswa anda di kelas.
  3. Jika marah atau kecewa pada siswa, berbicara lah pada mereka dan bukan berteriak.
  4. berbagi senyum tulus pada semua siswa. Siswa yang dicap sebagai anak yang ‘bermasalah’ akan luntur dan akan menyukai anda jika anda berikan senyum pada mereka.
  5. Memotivasi siswa dengan cara memotivasi dan bukan menyindir.
  6. Menggunakan humor pada tempat dan saat yang tepat.
  7. Mudah diajak berteman oleh siswa dan bukan menjadi teman siswa. Mudah diajak berteman artinya anda pihak yang pasif dalam berkomunikasi namun tetap dengan cara yang profesional. Berusaha menjadi teman siswa hanya akan menyulitkan situasi anda dikemudian hari.
  8. Penyabar dan menganggap semua siswa sedang berproses. Hindari meneruskan warisan guru lain dengan melanjutkan cap yang sudah diterima oleh siswa tertentu.

Profesionalisme Guru

Pendahuluan
       Permasalahan belajar sebenarnya memiliki kandungan substansi yang “misterius’. Berbagai macam teori belajar telah ditawarkan para pakar pendidikan dengan belahar dapat ditempuh secara efektif dan efisien, dengan implikasi waktu cepat dan hasilnya banyak. Namun, sampai saat ini belum ada satupun teori yang dapat menawarkan strategi belajar secara tuntas. Masih banyak persoalan-persoalan belajar yang belum tersentuh oleh teori-teori tersebut.
      Kompleksitas persoalan yang terkait dengan belajar inilah yang menjadi penyebab sulitnya menuntaskan strategi belajar. Ada banyak faktor yang mesti dipertimbangkan dalam belajar, baik yang bersifat internal maupun yang eksternal. Diantara sekian banyak faktor eksternal terdapat guru yang sangat berpengaruh terhadap siswa. Sukses tidaknya para siswa dalam belajar di sekolah, sebagai penyebab tergantung pada guru. Ketika berada di rumah, para siswa berada dalam tanggung jawab orang tua, tetapi di sekolah tanggung jawab itu diambil oleh guru. Sementara itu, masyarakat menaruh harapan yang besar agar anak-anak mengalami perubahan-perubahan positif-konstruktif akibat mereka berinteraksi dengan guru.


            Harapan ini menjadi suatu yang niscaya terutama ketika dikaitkan dengan mutu pendidikan. Pembahasan mutu pendidikan betapapun akan terfokuskan pada input- proses-output. Input terkait dengan masyarakat sebagai “pemasok”sedangkan outuput terakait dengan masyarakat sebagai pengguna. Adapun proses terkait dengan guru sebagai pembimbing. Dataran proses inilah yang paling determinan dalam mewujudkan sitasi pembelajaran di sekolah baik yang membelenggu, atau sebaliknya membebaskan, membangkitkan dan menyadarkan.

SABAR

S A B A R 
 Sesungguhnya orang berakal itu
sabar atas penderitaan
Dihadapinya penderitaan itu
dengan berani dan tekun
dan berusaha dengan tenang
Untuk menanggulangi penderitaan
dan menolak bencana
Adapun orang bodoh
ia selalu takut
akan segala musibah yang menimpanya
sekalipun hanya kecil saja
Ia beranggapan bahwa
ia tidak mampu mengatasinya
dan tidak sanggup menolaknya
karenanya ia tidak bisa terlepas
dari padanya
dan tidak kuasa lari dari penderitaan itu
untuk menuju ke jalan
yang terjamin kebaikannya

Jumat, 09 Maret 2012

Guru = Profesional

Kata dasar Guru, banyak sekali artinya dalam bahasa keseharian kita. Ada yang bilang artinya sebagai pengajar, pendidik dan pembagi ilmu. Bahasa Jawa mengasumsikan sebagai diGUgu lan ditiRU yang artinya, diperhatikan dan ditiru segala tingkah lakunya yang positif. Itu sebabnya, saia menulis judul postingan ini, Guru = Profesional. Alasannya?
Kesabaran Guru Salah Satu Sikap Profesional
Menjadi guru dasarnya harus dari hati, bukan asal-asalan atau alasan yang menyangkut materi, meskipun kesejahteraan guru masih jauh. Guru itu profesi yang tanggung jawabnya sangat besar, tidak hanya tanggung jawab kepada murid yang diajarkan saja. Tetapi juga bertanggung jawab kepada pihak sekolah dan negara. Apalagi guru saat ini harus bersikap profesional dan harus berkualitas demi perubahan pendidikan yang lebih baik. Sikap profesional tersebut harus diterapkan dalam mengajar pada murid-muridnya. Terampil dan sabar dalam menghadapi peserta didik juga merupakan wujud profesionalitas diri. Tidak hanya harus intelektual tinggi namun juga punya kontrol emosi yang baik dalam menghadapi anak didik.
Guru, terima kasih telah menjadikanku pandai. Engkau telah mempersembahkan yang terbaik untuk generasi penerus bangsa Indonesia, untuk menjadi yang lebih baik dan lebih cerah di masa yang akan datang.

10 CIRI GURU PROFESIONAL

1. Selalu punya energi untuk siswanya
Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama.
2. Punya tujuan jelas untuk Pelajaran
Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas.
3. Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa  mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas.
4. Punya keterampilan manajemen kelas yang baik
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif,  membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas.

5. Bisa berkomunikasi dengan Baik Orang Tua
Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi  panggilan telepon, rapat, email dan sekarang, twitter.
6. Punya harapan yang tinggi pada siswa nya
Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka.
7. Pengetahuan tentang Kurikulum
Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga  memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu.
8. Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan
Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif.
9. Selalu memberikan yang terbaik  untuk Anak-anak dan proses Pengajaran
Seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan  mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah beranjak dewasa.
10. Punya hubungan yang berkualitas dengan Siswa
Seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya.
Disarikan dari situs Apple for the teacher

Senin, 27 Februari 2012

11 Penyakit yang diderita Guru “Belum” Profesional

Guru profesional adalah guru yang meramu kualitas dan integritasnya. Mereka tidak hanya memberikan pembelajaran bagi peserta didiknya tapi mereka juga harus menambah pembelajaran bagi mereka sendiri karena jaman terus berubah. Ia harus terus meningkatkan kemampuan serta keterampilannya dalam berbagai bidang. Perningkatan kualitas ini tidak hanya didapat melalui ruang formal saja. Tapi juga bisa melalui pelatihan-pelatihan peningkatan kualitas guru.
Namun untuk menjadi seorang guru profesional, tidak lah semudah kita mengucapkan kata-kata. Membutuhkan kerja keras dan loyalitas terhadap apa yang harus dilakukan seorang guru profesional.
Disaat kita sedang berada di jalur untuk menjadi Guru Profesional, kita harus mampu melawan beberapa penyakit yang sering di derita oleh seorang guru.
ada 11 penyakit yang sering diderita oleh guru, penyakit itu antara lain:
  1. Tipes   : Tidak punya selera (monoton dan membosankan)
  2. Mual : mutu amat lemah (mutu lemah mau jadi guru bersertifikat pendidik? jangan ngimpi)
  3. Kudis : Kurang disipiln (murid disuruh disiplin, namun kalau kita tidak disiplin? ^$#&@$)
  4. Asma : Asal masuk kelas (kewajiban guru kepada peserta didik, bukan rutinitas)
  5. Kusta : Kurang Strategi (hoaammm… di kelas siswa bakal ngantuk berat :(
  6. TBC : Tidak Bisa Computer (Jaman Gini ga bisa komputer? haddeeeeehhhhh…… %$^%#@)
  7. KRAM : Kuram Terampil
  8. Asam Urat : Asal Sampaikan materi urutan kurang akurat (kualitas bos,, bukan kuantitas….)
  9. Lesu : Lemah Sumber (cuma pake 1 referensi, LKS pula :( ; pake internet… ga kenal internet? NDESO (by tukul arwana :D )
  10. Diare : Dikelas Anak-anak remehkan (Guru hanya menang belajar 1 malam dari siswa, apa masih meremehkan siswa?)
  11. Ginjal : Gajinya nihil jarang aktif dan terlambat (Penyakit yang paling parah :D , guru bukan cari uang, tapi cari nafkah batin :D .. ingat semboyan Pahlawan tanpa tanda jasa)
Memang bukan penyakit seperti yang ada di kamus medis. Namun 11 penyakit tersebut di atas sangatlah berbahaya dan bisa menular.
Mari kita berpikir positif dan melakukan yang terbaik dalam hal pendidikan, jangan sampai salah satu dari 11 penyakit itu menghinggapi kita.Jangan sampai pendidikan negeri ini menjadi rapuh hanya karena Tenaga Pendidik yang tidak kompeten. :D

Rabu, 11 Januari 2012

BAHAN AJAR COURSE LAB

CourseLab merupakan piranti lunak penyusun bahan ajar multimedia untuk e-Learning yang powerful dan mudah digunakan. CourseLab menawarkan lingkungan WYSIWYG (What You See Is What You Get) yang bebas dari pemrograman untuk menghasilkan bahan ajar interaktif yang dapat di publikasikan di Internet, Learning Management Systems (LMS), serta CD-ROM. Sistem yang Dibutuhkan Untuk dapat menjalankan CourseLab dan membuat bahan ajar yang dilakukan dalam tutorial ini menggunakan Personal Computer atau notebook, membutuhkan spesifikasi komputer sebagai berikut :
·         Sistem operasi Microsoft Windows XP
·         Ruang kosong harddisk minimal 50 MB
·         VGA Card dengan RAM 64 MB
·         Browser web Internet Explorer
·         Aplikasi player multimedia Windows Media Player
·         Plug-in Adobe Flash Player (untuk menjalankan file flash, dengan ekstensi *.swf) serta plug-in lainnya (Quick Time Player, Real Player, Shockwave Player, dan Java Runtime Environtment
·         Aplikasi Windows Movie Maker untuk melakukan pengambilan gambar via Web Camera dan melakukan perekaman suara via Microphone
·         Hardware tambahan berupa Web Camera dan Microphone
·         Koneksi Internet (untuk melakukan aktivasi aplikasi CourseLab) tapi menjalankan  E  learning ini tanpa konek interne, cukup klik folder 1 te rus klikstart .
E Learning  ini disusun untuk membantu guru  dan siswa dalam pembelajaran
1.Suku Banyak,
2.Fungsi Komposisi, 
            Agar dapat memahami keseluruhan materi, maka pembahasan harus dilakukan secara berurutan